Pages

Dilema keluarga

Pernahkan kau berada dalam kondisi berbicara kepada orang tuamu kikuknya melebihi pembicaraanmu kepada orang yang baru kau temui?

Pernahkah kau merasa orang tuamu begitu jauh, meski ia ada di pelupuk matamu?

Pernahkah pandanganmu tentang kebaikan berbeda dengan pandangan orang tuamu?

Pernahkah engkau merasakan seperti broken home padahal keluargamu baik-baik saja?

Ketika segalanya seperti di persimpangan yang rumit dan membingungkan.

Padahal telah ditegaskan bahwa ridho Allah tergantung ridho orang tua.
Namun kebaikan yang telah kita rasakan dan usahakan tak bisa diabaikan jua.

Ketika kau diam tapi segalanya hanya terus memburuk. Ketika kau berusaha bicara namun justru dianggap melawan.

Lika-liku perjuangan ini mungkin salah satu yang terumit, namun ironisnya sejauh ini diriku hanya berkutat pada masalah-masalah pribadi, masalah-masalah dunia yang tak kunjung selesai.

Apapun itu, cintaku pada orang tua takkan berkurang, jikapun harus terungkap dalam do'a saja.

Jika ada usia yang lebih panjang, semoga cepat atau lambat ada masa bagi kita untuk saling mendukung dalam dakwah, cinta dan kehidupan.

Semoga Mekkah menjadi awal jalan cinta kita yang baru yang lebih baik.

#Seri Curhat Tengah Malam
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Ntah lah

Siang itu seperti biasanya Agus dan Darwis pergi ke mushalla sekolah untuk menunaikan sholat dzuhur berjama'ah dilanjutkan dengan halaqoh dengan Kak Fandi. Setiap harinya Agus dan Darwis selalu datang paling awal ke mushalla untuk mengumandangkan adzan. Biasanya mereka selalu bertukar peran sebagai muadzin dan imam. Siang ini ada sesuatu yang tampak berbeda, kedatangan mereka ternyata sudah didahului oleh seseorang dengan penampilan kusut, baju seragam tidak rapi dan jaket bergambar tengkorak. Bukan kekacauan yang dilakukan orang itu, saat Agus dan Darwis datang orang itu justru tampak sedang melakukan sholat sunnah.

Agus dan Darwis tampak terheran-heran dengan kekontrasan penampilan dengan apa yang dilakukan orang itu, namun mereka berusaha tetap bersikap biasa. Setelah berwudhu, Agus segera menggapai microphone untuk mengumandangkan adzan dan Darwis bersiap untuk menjadi imam.

Tak lama setelah menunaikan shalat dzuhur, datanglah kak Fandi. Suara motornya yang terdengar khas bagi anak-anak Rohis ini membuat mereka sudah mampu menebak kedatangan kak Fandi hanya dari suara motornya saja.

Selain Agus dan Darwis beberapa anak Rohis lainnya juga sudah siap mendengarkan materi halaqoh dari kak Fandi. Anggota-anggota Rohis SMK Pelita Bangsa ini terdiri dari berbagai latar belakang, ada Daniel si tampan dari keluarga terpandang, Fikri dengan badan besar dan hitam yang merupakan seorang pekerja keras membantu ayahnya menjadi kuli bangunan, ada Hafiz si anak supel yang hobi becanda, dan banyak lagi anggota-anggota lainnya. Rohis angkatan kami memang memiliki banyak anggota, ini berkat usaha kak Fathir yang gencar melakukan promosi-promosi kepada siswa-siswa baru
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone