Aku muak dengan kasih sayang!
Ketika orang terlalu mudah mengatakannya,
Tetapi tak mampu melakukannya.
Banyak orang mengatakan tindakannya sebagai kasih sayang,
Tetapi ia sepeti melempar kepala dengan berlian, saki..t!
Aku muak dengan kasih sayang
Ketika ia hanya menjadi alat formalitas biologis, katakanlah begitu jika tak ingin disebut pura-pura.
Aku muak pada kasih sayang
Ketika ia tak berbeda sakitnya dengan kejahatan.
Lalu apa sebenarnya kasih sayang itu?
Adakah dia lebih baik dari kejahatan?
Kenapa banyak sekali kasih sayang yang terasa sakit?
Dimanakah ketulusan?
Apakah ia sudah bercerai dengan kasih sayang?
Tegakah mereka membiarkan cinta dan kebahagiaan menjadi yatim?
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
20 November 2014
20 November 2014,
Sekitar 2 bulan menuju sidang.
Bukan! Bukan sidang skripsi,
Ini sidang Kape, seperti yang sering sayang biacarakan itu.
Skripsi masih terlalu jauh untuk tampak dari mata saya,
Ketika yang lain sudah berfikir "akan membuat skripsi tentang apa?" saya masih berfikir "akan membuat skripsi pakai apa?"
Ada yang berfikir mahasiswa komputer sama dengan peternakan atau FISIP. Ya, memang sama, sama-sama mahasiswa, sama-sama mengerjakan skripsi menggunakan komputer, tetapi logika paling sederhanapun akan mengakui bahwa mahasiswa komputer mutlak harus memiliki waktu berinteraksi dengan komputer lebih banyak.
Saat ini saya ada di semester 9, sebagian orang dari kampus lain mengatakan ini adalah hal biasa, tetapi tetapi tidak dengan lingkungan dan kampus kami, ini hal yang tabu!
Hal terberat di sini bukanlah masalah waktunya, tetapi masalah kondisinya, serba salah, atau lebih tepatnya serba disalahkan.
Saya bersedia menanggung cap sebagai pemalas, lalai atau bodoh sekalipun, asalkan dalam cacian itu ada solusi untuk saya.
Ini catatan saya hari ini, tidak bermaksud mellow, saya hanya ingin berontak, tetapi entah kepada siapa. Saya mungkin sudah terlalu sering mengkambing hitamkan diri sendiri, karena tidak etis mengkambing hitamkan orang lain, apatah lagi orang yang umumnya harus dipuji.
Saya ingin berontak! Berikan aku gelas-gelas untuk kupecahkan, berikan aku piring-piring untuk kulempar sejauh kemarahanku!!
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
Sekitar 2 bulan menuju sidang.
Bukan! Bukan sidang skripsi,
Ini sidang Kape, seperti yang sering sayang biacarakan itu.
Skripsi masih terlalu jauh untuk tampak dari mata saya,
Ketika yang lain sudah berfikir "akan membuat skripsi tentang apa?" saya masih berfikir "akan membuat skripsi pakai apa?"
Ada yang berfikir mahasiswa komputer sama dengan peternakan atau FISIP. Ya, memang sama, sama-sama mahasiswa, sama-sama mengerjakan skripsi menggunakan komputer, tetapi logika paling sederhanapun akan mengakui bahwa mahasiswa komputer mutlak harus memiliki waktu berinteraksi dengan komputer lebih banyak.
Saat ini saya ada di semester 9, sebagian orang dari kampus lain mengatakan ini adalah hal biasa, tetapi tetapi tidak dengan lingkungan dan kampus kami, ini hal yang tabu!
Hal terberat di sini bukanlah masalah waktunya, tetapi masalah kondisinya, serba salah, atau lebih tepatnya serba disalahkan.
Saya bersedia menanggung cap sebagai pemalas, lalai atau bodoh sekalipun, asalkan dalam cacian itu ada solusi untuk saya.
Ini catatan saya hari ini, tidak bermaksud mellow, saya hanya ingin berontak, tetapi entah kepada siapa. Saya mungkin sudah terlalu sering mengkambing hitamkan diri sendiri, karena tidak etis mengkambing hitamkan orang lain, apatah lagi orang yang umumnya harus dipuji.
Saya ingin berontak! Berikan aku gelas-gelas untuk kupecahkan, berikan aku piring-piring untuk kulempar sejauh kemarahanku!!
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
Mahasiswa pengiri
Ini seharusnya menjadi akhir perjalanan studiku, terlepas dari terpasangnya toga ataupun tidak, segalanya memang tak lagi sama, semester baru dengan semester tua, jauh berbeda. Sampai di titik ini banyak sekali yang ingin ku sesali, bukan untuk kufur nikmat, hanya sekedar untuk mendaki tangga nelangsa hinga sampai ke titik bahagia meski entah dimana titiknya, setidaknya di situ aku dapat merasa lega.
Aku iri pada mereka yang berasa di antara awan, di puncak gunung, di padang sang bunga 'abadi' edelweis.
Aku iri pada mereka yang duduk bersama-sama dengan ulasan-ulasan kritis nan elegan, nan penuh ketulusan membangun perdaban.
Aku iri pada pertemuan dengan rekan dari seluruh penjuru negeri. Bukan untuk jalan-jalan gratis, bukan untuk sok eksis. Hanya sekedar menikmati ukhuwah ini.
Aku iri pada mereka yang berada di laboratorium yang lengkap, yang dengan sesuka hati mengeksploitasi pengetahuannya.
Aku iri pada teman-teman yang seharusnya menjadi teman sekelasku sekarang, yang sebenarnya telah kubayangkan akan bersama tertawa riang.
Ya, inilah aku mahasiswa pengiri, biar begaimanapun inilah tempatku saat ini, sesuatu yang terbaik untukku.
Mahasiswa pengiri
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Aku iri pada mereka yang berasa di antara awan, di puncak gunung, di padang sang bunga 'abadi' edelweis.
Aku iri pada mereka yang duduk bersama-sama dengan ulasan-ulasan kritis nan elegan, nan penuh ketulusan membangun perdaban.
Aku iri pada pertemuan dengan rekan dari seluruh penjuru negeri. Bukan untuk jalan-jalan gratis, bukan untuk sok eksis. Hanya sekedar menikmati ukhuwah ini.
Aku iri pada mereka yang berada di laboratorium yang lengkap, yang dengan sesuka hati mengeksploitasi pengetahuannya.
Aku iri pada teman-teman yang seharusnya menjadi teman sekelasku sekarang, yang sebenarnya telah kubayangkan akan bersama tertawa riang.
Ya, inilah aku mahasiswa pengiri, biar begaimanapun inilah tempatku saat ini, sesuatu yang terbaik untukku.
Mahasiswa pengiri
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Dari FB hingga BBM, dari Peter Pan hingga Edcoustic
Dari Facebook hingga Blackberry Messenger, dari Peter Pan hingga Edcoustic. Biarlah ia menjadi bait-bait puisi kenangan nan indah. Berawal dari sana terajut asa yang lama, terbangun mimpi yang nyaris sirna. Sungguh mimpi itu nyaris-nyaris saja tampak nyata, membentang seluas samudra, berkilau seindah nirwana.
Memang ini salah adanya. kuhanya berharap adanya cela, untuk secercah pelita bagi hidupku yang nelangsa.
Tak mengapa jika akhirnya hanya menjadi mimpi saja, toh seisi alam memakluminya, kuingin ini akan kulupa, tapi apalah daya. kan kusimpan dalam etalase kenangan ku saja, untuk kupandang tiap akhir senja dan ketika cahaya rembulan menyapa.
memang ku seperti punuk merindukan bulan.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Memang ini salah adanya. kuhanya berharap adanya cela, untuk secercah pelita bagi hidupku yang nelangsa.
Tak mengapa jika akhirnya hanya menjadi mimpi saja, toh seisi alam memakluminya, kuingin ini akan kulupa, tapi apalah daya. kan kusimpan dalam etalase kenangan ku saja, untuk kupandang tiap akhir senja dan ketika cahaya rembulan menyapa.
memang ku seperti punuk merindukan bulan.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Dilema keluarga
Pernahkan kau berada dalam kondisi berbicara kepada orang tuamu kikuknya melebihi pembicaraanmu kepada orang yang baru kau temui?
Pernahkah kau merasa orang tuamu begitu jauh, meski ia ada di pelupuk matamu?
Pernahkah pandanganmu tentang kebaikan berbeda dengan pandangan orang tuamu?
Pernahkah engkau merasakan seperti broken home padahal keluargamu baik-baik saja?
Ketika segalanya seperti di persimpangan yang rumit dan membingungkan.
Padahal telah ditegaskan bahwa ridho Allah tergantung ridho orang tua.
Namun kebaikan yang telah kita rasakan dan usahakan tak bisa diabaikan jua.
Ketika kau diam tapi segalanya hanya terus memburuk. Ketika kau berusaha bicara namun justru dianggap melawan.
Lika-liku perjuangan ini mungkin salah satu yang terumit, namun ironisnya sejauh ini diriku hanya berkutat pada masalah-masalah pribadi, masalah-masalah dunia yang tak kunjung selesai.
Apapun itu, cintaku pada orang tua takkan berkurang, jikapun harus terungkap dalam do'a saja.
Jika ada usia yang lebih panjang, semoga cepat atau lambat ada masa bagi kita untuk saling mendukung dalam dakwah, cinta dan kehidupan.
Semoga Mekkah menjadi awal jalan cinta kita yang baru yang lebih baik.
#Seri Curhat Tengah Malam
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Pernahkah kau merasa orang tuamu begitu jauh, meski ia ada di pelupuk matamu?
Pernahkah pandanganmu tentang kebaikan berbeda dengan pandangan orang tuamu?
Pernahkah engkau merasakan seperti broken home padahal keluargamu baik-baik saja?
Ketika segalanya seperti di persimpangan yang rumit dan membingungkan.
Padahal telah ditegaskan bahwa ridho Allah tergantung ridho orang tua.
Namun kebaikan yang telah kita rasakan dan usahakan tak bisa diabaikan jua.
Ketika kau diam tapi segalanya hanya terus memburuk. Ketika kau berusaha bicara namun justru dianggap melawan.
Lika-liku perjuangan ini mungkin salah satu yang terumit, namun ironisnya sejauh ini diriku hanya berkutat pada masalah-masalah pribadi, masalah-masalah dunia yang tak kunjung selesai.
Apapun itu, cintaku pada orang tua takkan berkurang, jikapun harus terungkap dalam do'a saja.
Jika ada usia yang lebih panjang, semoga cepat atau lambat ada masa bagi kita untuk saling mendukung dalam dakwah, cinta dan kehidupan.
Semoga Mekkah menjadi awal jalan cinta kita yang baru yang lebih baik.
#Seri Curhat Tengah Malam
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Ntah lah
Siang itu seperti biasanya Agus dan Darwis pergi ke mushalla sekolah untuk menunaikan sholat dzuhur berjama'ah dilanjutkan dengan halaqoh dengan Kak Fandi. Setiap harinya Agus dan Darwis selalu datang paling awal ke mushalla untuk mengumandangkan adzan. Biasanya mereka selalu bertukar peran sebagai muadzin dan imam. Siang ini ada sesuatu yang tampak berbeda, kedatangan mereka ternyata sudah didahului oleh seseorang dengan penampilan kusut, baju seragam tidak rapi dan jaket bergambar tengkorak. Bukan kekacauan yang dilakukan orang itu, saat Agus dan Darwis datang orang itu justru tampak sedang melakukan sholat sunnah.
Agus dan Darwis tampak terheran-heran dengan kekontrasan penampilan dengan apa yang dilakukan orang itu, namun mereka berusaha tetap bersikap biasa. Setelah berwudhu, Agus segera menggapai microphone untuk mengumandangkan adzan dan Darwis bersiap untuk menjadi imam.
Tak lama setelah menunaikan shalat dzuhur, datanglah kak Fandi. Suara motornya yang terdengar khas bagi anak-anak Rohis ini membuat mereka sudah mampu menebak kedatangan kak Fandi hanya dari suara motornya saja.
Selain Agus dan Darwis beberapa anak Rohis lainnya juga sudah siap mendengarkan materi halaqoh dari kak Fandi. Anggota-anggota Rohis SMK Pelita Bangsa ini terdiri dari berbagai latar belakang, ada Daniel si tampan dari keluarga terpandang, Fikri dengan badan besar dan hitam yang merupakan seorang pekerja keras membantu ayahnya menjadi kuli bangunan, ada Hafiz si anak supel yang hobi becanda, dan banyak lagi anggota-anggota lainnya. Rohis angkatan kami memang memiliki banyak anggota, ini berkat usaha kak Fathir yang gencar melakukan promosi-promosi kepada siswa-siswa baru
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
Agus dan Darwis tampak terheran-heran dengan kekontrasan penampilan dengan apa yang dilakukan orang itu, namun mereka berusaha tetap bersikap biasa. Setelah berwudhu, Agus segera menggapai microphone untuk mengumandangkan adzan dan Darwis bersiap untuk menjadi imam.
Tak lama setelah menunaikan shalat dzuhur, datanglah kak Fandi. Suara motornya yang terdengar khas bagi anak-anak Rohis ini membuat mereka sudah mampu menebak kedatangan kak Fandi hanya dari suara motornya saja.
Selain Agus dan Darwis beberapa anak Rohis lainnya juga sudah siap mendengarkan materi halaqoh dari kak Fandi. Anggota-anggota Rohis SMK Pelita Bangsa ini terdiri dari berbagai latar belakang, ada Daniel si tampan dari keluarga terpandang, Fikri dengan badan besar dan hitam yang merupakan seorang pekerja keras membantu ayahnya menjadi kuli bangunan, ada Hafiz si anak supel yang hobi becanda, dan banyak lagi anggota-anggota lainnya. Rohis angkatan kami memang memiliki banyak anggota, ini berkat usaha kak Fathir yang gencar melakukan promosi-promosi kepada siswa-siswa baru
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
Yang kumau hanya dirimu, tapi tak begini keadaannya
HI FRIEND!!
Sudah lama sekali rasanya tidak
bermain sepakbola di lapangan rumput. Ternyata sudah 5 tahun saya berpisah
dengan rumput2 kecil nan indah itu. Kini saat diri telah memasuki semester 5
kuliah, kesempatan untuk bertemu dengan mereka hadir kembali. Kabinet baru BEM
Universitas berinisiatif untuk membangun kembali tim sepakbola yang telah lama
mati.
Saat itu saya yang masih menjabat
selaku Mentri Agama Universitas, pergi bersama Fikri yang menjabat Mentri
olahraga untuk mencari lapangan untuk kami bermain sepakbola. Banyak
lapangan-lapangan kosong yang kami temukan. Namun tidak ada yang benar-benar
representatif. bahkan selain tidak begitu representatif, ternyata uang sewa
lapangan itu cukup mahal. Yah beginilah kenyataan tinggal di kota besar yang
nyaris rata dengan gedung-gedung.
Dua minggu telah berlalu,
ternyata tanpa didampingi oleh saya, Fikri telah berhasil menemukan lapangan
yang cukup murah uang sewanya. Bukan kepalang kegembiraan saya mendengar kabar
tersebut. Namun saya lupa menanyakan satu hal, "bagaimana kondisi lapangan
itu?" Dan ternyata pertanyaan yang terlupa itu menjadi hal yang sangat
vital. Bagaimana tidak, saat saya sampai ke lapangan tersebut untuk ikut
bermain, hal yang terpampang di hadapan saya sungguh sangat sulit dipercaya.
Lapangan ini lebih cocok dijadikan lokasi olahraga surfing daripada olahraga
sepakbola, GELOMBANGNYA SANGAT BANYAK.
Preview buku: Penjaga Jalan Ke Mesjid
HI FRIEND!!
Kami perintahkan kepada manusia
supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan
susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). mengandungnya sampai
menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia Telah dewasa dan
umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah Aku
untuk mensyukuri nikmat Engkau yang Telah Engkau berikan kepadaku dan kepada
ibu bapakku dan supaya Aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai;
berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku.
Sesungguhnya Aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya Aku termasuk
orang-orang yang berserah diri".
(QS Al-Ahqaaf : 15)
Bolehkah kuhapus air
matamu ibu
Ibu
Romli adalah seorang guru di SMP Setia Kencana, setiap pagi ia sudah harus
pergi ke sekolah untuk mengajar. Tidak ada kendaraan pribadi yang mengantarkannya
ke sekolah, padahal jarak rumahnya ke sekolah cukup jauh. Sehingga ia harus
berpagi-pagi pergi ke sekolah agar tidak ketinggalan angkutan umum. Romli
sendiri pergi ke sekolahnya dengan menaiki sepeda bervelg plastik hadiah
ayahnya saat ulang tahun yang kedelapan. Ayah Romli sendiri adalah seorang
tukang jagal ayam di pasar.
Ibu
Romli baru memasak untuk keluarga ketika sore hari. Biasanya ayah Romli selalu
membawa ayam dari pasar tempatnya bekerja saat pulang sore harinya. Masakannya
selalu dilebihkan ibu Romli untuk makanan sarapan esok pagi. Agar tidak jenuh
memakan ayam, saat ada waktu luang Ayah Romli selalu mengajak Romli pergi
memancing ke sungai yang tidak jauh dari rumah mereka.
Sejak
pagi-pagi buta keluarga Romli sudah mulai sibuk. Bahkan sesudah sholat shubuh
rumah Romli sudah ditinggal penghuninya. Ibu Romli menjadi yang paling sibuk
karena harus menjalani peran ganda menyiapkan kebutuhan keluarga dan pergi
mengajar untuk membantu ekonomi keluarga.
Romli
tumbuh menjadi anak yang sederhana, tidak banyak menuntut kepada kedua orang
tuanya. Namun ia juga sangat cuek dan tertutup. Tidak banyak waktu yang ia
habiskan bersama orang tuanya menjadikan semacam jarak yang memisahkannya
dengan kedua orang tuanya.
Saat
lulus dari SMP Romli berkeinginan untuk bersekolah di kota. Ia sangat berhasrat
untuk bersekolah di SMA favorit di sana. Sampai-sampai waktu libur panjang ia
habiskan untuk belajar, belajar dan belajar. Namun sayangnya kedua orang tua
Romli berkehendak lain. Mereka menginginkan Romli untuk bersekolah di SMA dekat
perbatasan saja, karena jaraknya yang tidak jauh dan biayanya yang juga lebih
murah.
“Sekolah
di perbatasan saja lah nak, Kan disana lebih murah dan jaraknya dekat. Kalau
sekolah di kota, ibu dan ayah takut tidak mampu membiayai. ibu guru honorer
sementara ayah hanya tukang jagal ayam.”
“Tapi
bu, Romli ingin lebih berprestasi. Di sana sarana dan prasarananya lebih
menunjang minat dan bakat Romli. Romli janji akan berprestasi sampai dapat
beasiswa di sana kalau ibu mau mengijinkan Romli sekolah di sana.”
Ibu
Romli hanya diam mendengar jawaban anaknya, dia menjadi bingung dan serba
salah. Orang tua mana yang tidak ingin melihat anaknya berprestasi. Namun apa
daya jika ia tak mampu membantu anaknya mewujudkan prestasi itu............................
selengkapnya download di sini
This book is available to order. send your name, address, book tittle and phone number to fauzild.dean@gmail.com or admin@nulisbuku.com.
mencintai meski tidak terlahir untuk sepakbola
HI FRIEND!!
Sepakbola, pada dasarnya hanyalah sebuah permainan yang dimainkan oleh beberapa orang yang menendang-nendang benda bundar yang dapat memantul. Sangat sederhana, namun karena keserhanaannya itu lah banyak sekali orang menyukai bahkan mencintai sepakbola. Karena dibalik kesederhanaan itu juga terdapat kebersamaan, persaingan, seni dan bahkan taktik strategi.
Sepakbola dapat dimainkan oleh siapa saja, tidak peduli miskin atau kaya, pintar atau bodoh semua membaur dalam lapangan sepakbola. Namun tidak enak rasanya memainkan sepakbola tanpa persaingan yang sengit. Di sinilah sisi sepakbola yang tidak bisa dimainkan semua orang. Untuk bersaing dalam sepakbola seseorang itu harus memiliki keterampilan olah bola yang mumpuni dan tentu saja fisik yang mendukung. Untuk keterampilan olah bola masih dapat dilatih, namun tidak dengan kemampuan fisik. Hal itulah yang sangat saya rasakan hingga kini, bentuk fisik kaki yang agak lengkung tidak seperti laki-laki yang lain ditambah postur yang sangat kurus menyulitkan saya dalam bersaing dalam sepakbola. Namun itu bukanlah menjadi alasan saya untuk berhenti mencintai sepakbola, sungguh cinta saya pada sepakbola adalah cinta tak bersyarat *ehem-ehem
Meskipun tidak bercita-cita menjadi pemain sepakbola namun sepakbola tetaplah penting dalam bersosialisasi, terlihat saat ini orang2 tidak bisa lepas dari sepakbola. Saat minimnya lapangan sepakbola rumput, kini orang2 banyak beralih ke lapangan futsal terutama untuk kebutuhan silaturahmi
Sebenarnya banyak sekali pemain kelas dunia yang bisa dibilang “tidak terlahir untuk sepakbola” namun akhirnya sukses menjadi pemain kelas dunia. Messi adalah contoh paling populer, Messi dahulu terancam menjadi orang cebol yg tentu saja membuatnya akan sulit bersaing terlebih di benua eropa yang pemainnya memiliki postur tubuh yang tinggi2. Namun Messi tidak patah arang, ia terus bermain sepakbola, mengasah keterampilan ajaibnya. Ya potensi bermain sepakbola Messi tentu tidak akan muncul dan terlihat oleh orang lain jika Messi kecil pesimistis dengan postur tubuhnya.
sepakbola adalah hal yang tidak terpisahkan dalam hidup saya, mulai dari poster di kamar yg semuanya bergambar tim sepakbola, game tradisional sepakbola dari kertas, playstation gamenya sepakbola sampai tentunya dengan permainan sepakbola yang aslinya, baik sepakbola lapangan rumput maupun futsal. Saya mulai mengenal sepakbola tahun 2000 namun baru mulai mencintainya saat piala Dunia Korea-Jepang 2002. Saat itu setiap saat semua orang membicarakan sepakbola, televisi pemegang hak siar pun sangat intens menayangkan acara2 berbau world cup 2002. Mulai dari suka menonton pertandingan sepakbola itu akhirnya kaki saya ‘gatal’ juga untuk ikut bermain sepakbola dengan teman2.
Seiring dengan seringnya saya bermain tentu semakin luas juga pergaulan saya, saat kecil dulu saya punya ciri khas permainan rap-rap sedang semboyan “bola bisa lewat tapi kaki jangan sampai lewat”. Banyak kenangan indah tentang cinta saya pada sepakbola, namun sebenarnya lebih banyak kenangan pahitnya, karena ketikmampuan saya itu dalam bersaing dalam sepakbola dan memang cap “pecundang” yang diberikan setiap orang kepada saya sejak kecil. hingga akhirnya saya menemukan moment kebangkitannya saat SMP seperti yg saya tulis pada artikel terdahulu. Sampainya saya pada tim Saat SMP yang akhirnya bisa membuat saya bersaing dalam sepakbola itu tidak lain karena cinta tak bersyarat saya pada sepakbola, cinta yang membuat saya tidak pernah berhenti bermain sepakbola meskipun dengan segala keterbatasan saya. Yang membuat saya selalu senantiasa semangat dalam bermain sepakbola..
Cinta pada sepakbola adalah hal yang sangat positiv, karena kita dapat menempa fisik kita agar selalu kuat, kita dapat bersosialisasi pada siapa saja yang menjadi kawan maupun lawan di lapangan. Sementara dalam hal menonton sepakbola sebenarnya kita bisa manfaatkan sambil sholat tahajjud saat nonton bola dini hari, dengan catatan sebelum menonton kita harus istirahat yang cukup dahulu agar kita tidak memdzalimi tubuh dan mata kita sendiri. Jadi mencintai sepakbola juga harus diarahkan pada hal-hal positiv, jangan sampai seperti sekarang yang membuat sepakbola yang hukumnya mubah bisa menjadi haram..
Cinta pada sepakbola adalah hal yang sangat positiv, karena kita dapat menempa fisik kita agar selalu kuat, kita dapat bersosialisasi pada siapa saja yang menjadi kawan maupun lawan di lapangan. Sementara dalam hal menonton sepakbola sebenarnya kita bisa manfaatkan sambil sholat tahajjud saat nonton bola dini hari, dengan catatan sebelum menonton kita harus istirahat yang cukup dahulu agar kita tidak memdzalimi tubuh dan mata kita sendiri. Jadi mencintai sepakbola juga harus diarahkan pada hal-hal positiv, jangan sampai seperti sekarang yang membuat sepakbola yang hukumnya mubah bisa menjadi haram..
#ceritaOom Fauzil
1.Beberapa hal menyakitkan saat lulus SMK sempat membuat sy kehilangan antusiasme dlm berorganisasi dan setengah hati dlm kuliah
2.Setahun lbh dpt tekanan smpt membuat jiwa organisasi sy mati, namun kmudian timbul sebuah asa baru dr kampus
3.Sy terharu pd para senior yg begitu percaya pd kemampuan sy. Pdhal sy sgt pasif d kampus berkaitan dg hal td
4. Terus terang sy tdk pernah bangga kuliah d sni, tp melihat semangat para senior sy jd sadar bhwa kebanggan itu dpt dibangun
5. Membangun dgn aksi nyata dr diri kita sendiri (termasuk berorganisasi), sehingga kampus pun jg akan bangga pd kita
6.Mengapa antusiasme dlm organisasi sy anggap sbg asa utk bangkit? Krn dg berorganisasilah seorg mhsiswa akan sukses
7.Tdk benar jk menjadi aktivis kampus mmbuat kuliah menjadi terbengkalai.
Kenyataannya byk mahasiswa brprestasi adl aktivis kampus
8. Diantara para aktivis kampus brprestasi, yg prnah sy temui lgsung adl Danang AP. Slide motivasinya sudah sgt terkenal
9.Justru byk mereka yg pasif dlm organisasi kampus cenderung terjebak dlm hal2 tdk berguna, sehingga merusak kuliah
10.Kegiatan organisasi tdk kalah penting dr pelajaran di kampus. Krn d sna jg byk hal yg tdk dpt dipelajari di dunia luar
11.Dg berorganisasi kt bsa bljar pola fikir yg lbh dewasa, memecahkan masalah scra terstruktur dan membangun "link"
12.Dg berorganisasi kt jd kenal byk senior maupun junior yg kelak bsa jd tmpt konsultasi kt ttg mslah2 perkuliahan
13.Msh byk lagi manfaat berorganisasi. So, masihkah anda mau mnjadi mhsiswa kupu-kupu(kuliah-pulang-kuliah-pulang)
14.Jk alasan pulang adl utk bekerja, brarti anda prlu melihat slide dr Danang AP ttg bagaimana ia mengatur waktu kuliah,kerja,aktivis
15.satu cttan: jk ingin mencari pengalaman kerja saat kuliah. Mka anda harus kuliah sambil kerja, bukan kerja sambil kuliah
16.Demikian cerita dr saya. Semoga bermanfaat
Follow me: @OmFauzil
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
2.Setahun lbh dpt tekanan smpt membuat jiwa organisasi sy mati, namun kmudian timbul sebuah asa baru dr kampus
3.Sy terharu pd para senior yg begitu percaya pd kemampuan sy. Pdhal sy sgt pasif d kampus berkaitan dg hal td
4. Terus terang sy tdk pernah bangga kuliah d sni, tp melihat semangat para senior sy jd sadar bhwa kebanggan itu dpt dibangun
5. Membangun dgn aksi nyata dr diri kita sendiri (termasuk berorganisasi), sehingga kampus pun jg akan bangga pd kita
6.Mengapa antusiasme dlm organisasi sy anggap sbg asa utk bangkit? Krn dg berorganisasilah seorg mhsiswa akan sukses
7.Tdk benar jk menjadi aktivis kampus mmbuat kuliah menjadi terbengkalai.
Kenyataannya byk mahasiswa brprestasi adl aktivis kampus
8. Diantara para aktivis kampus brprestasi, yg prnah sy temui lgsung adl Danang AP. Slide motivasinya sudah sgt terkenal
9.Justru byk mereka yg pasif dlm organisasi kampus cenderung terjebak dlm hal2 tdk berguna, sehingga merusak kuliah
10.Kegiatan organisasi tdk kalah penting dr pelajaran di kampus. Krn d sna jg byk hal yg tdk dpt dipelajari di dunia luar
11.Dg berorganisasi kt bsa bljar pola fikir yg lbh dewasa, memecahkan masalah scra terstruktur dan membangun "link"
12.Dg berorganisasi kt jd kenal byk senior maupun junior yg kelak bsa jd tmpt konsultasi kt ttg mslah2 perkuliahan
13.Msh byk lagi manfaat berorganisasi. So, masihkah anda mau mnjadi mhsiswa kupu-kupu(kuliah-pulang-kuliah-pulang)
14.Jk alasan pulang adl utk bekerja, brarti anda prlu melihat slide dr Danang AP ttg bagaimana ia mengatur waktu kuliah,kerja,aktivis
15.satu cttan: jk ingin mencari pengalaman kerja saat kuliah. Mka anda harus kuliah sambil kerja, bukan kerja sambil kuliah
16.Demikian cerita dr saya. Semoga bermanfaat
Follow me: @OmFauzil
Sent from my BlackBerry®
powered by Sinyal Kuat INDOSAT
TITIPAN BERPLASTIK MERAH
HI FRIEND!!
hallo semua!!
Aku iseng2 bikin cerpen nih. sebenarnya ini dah lama banget selesainya, bahkan dah sempat aku tawarin ke koran2 lokal.tapi emang nasib gua,ditolak mulu.jadi daripada mubazir aku posting disini aja deh,enjoy...
hallo semua!!
Aku iseng2 bikin cerpen nih. sebenarnya ini dah lama banget selesainya, bahkan dah sempat aku tawarin ke koran2 lokal.tapi emang nasib gua,ditolak mulu.jadi daripada mubazir aku posting disini aja deh,enjoy...
Malam yang indah dihiasi bulan
purnama penuh, dengan pancaran cahayanya yang lembut. Suara jangkrik yang
gemericik kian menambah nikmat suasana malam itu. Fadli sedang duduk-duduk di
teras rumahnya untuk sekedar menenangkan fikirannya yang sungguh sangat penat.
Sudah satu jam berlalu, Fadli masih saja duduk diam di tempatnya sambil
memandangi bulan, entah apa yang ada di fikirannya saat itu. Tapi ia tampak
sangat nyaman dengan suasana mala mini, seakan tak ingin malam ini berakhir.
Fadli sebenarnya adalah anak yang
baik dan cukup rajin, ia juga anak yang taat beribadah. Akan tetapi kondisi
lingkungan dan tekanan terus-menerus terhadap dirinya yang sebenarnya memiliki
fisik yang lemah, membuat dirinya terlihat seperti orang yang malas da bodoh.
Tak jarang orang menilainya sebagai anti-sosial
Sepakbola adalah jiwaku
![]() |
| image by : aalmarusy.blogspot.com |
Fanatisme terhadap sepakbola yang terkadang berlebihan banyak mengundang reaksi negative,sinis bahkan keras dari sebagian kalangan, termasuk dari kalangan yang mengaku sebagai kalangan yang religious,sebagian Mereka ada yang berusaha mengharamkan sepakbola. Mungkin mereka tidak tau apa alasan utama mengapa masyarkat menjadi begitu fanatic terhadap sepakbola, Sementara banyak olahraga lain yang lebih berprospek tidak terlalu diperhatikan.jawabannya tidak lain adalah karena sepakbola tidak hanya sekedar olahraga atau tontonan belaka, terlepas dari terdapatnya channel yang dapat dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab dalam sepakbola. Sepakbola adalah tempat bersosialisasi yang luar biasa baik itu antar pemain maupun antar supporter.
Ada kisah Emanuel Adebayor yang hampir saja menjadi penjahat, namun diselamatkan oleh kemampuan bersepakbolanya hingga kini menjadi pemain Manchester City yang dipinjamkan ke Real Madrid. sampai kisah Leonel Messi yang masa kecilnya adalah termasuk orang yang cebol namun kemampuannya bersepakbola membawanya ke Barcelona yang bersedia memberi perawatan kepadanya untuk tumbuh normal. Saya sendiri punya kisah pribadi yang “ditolong” oleh sepakbola. Begini ceritanya :
WE WILL NOT GO DOWN(michael heart)

(Song for Gaza)
(Composed by Michael Heart)
Copyright 2009
A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive
They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight
Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right
But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight
Subscribe to:
Posts (Atom)
