Ini seharusnya menjadi akhir perjalanan studiku, terlepas dari terpasangnya toga ataupun tidak, segalanya memang tak lagi sama, semester baru dengan semester tua, jauh berbeda. Sampai di titik ini banyak sekali yang ingin ku sesali, bukan untuk kufur nikmat, hanya sekedar untuk mendaki tangga nelangsa hinga sampai ke titik bahagia meski entah dimana titiknya, setidaknya di situ aku dapat merasa lega.
Aku iri pada mereka yang berasa di antara awan, di puncak gunung, di padang sang bunga 'abadi' edelweis.
Aku iri pada mereka yang duduk bersama-sama dengan ulasan-ulasan kritis nan elegan, nan penuh ketulusan membangun perdaban.
Aku iri pada pertemuan dengan rekan dari seluruh penjuru negeri. Bukan untuk jalan-jalan gratis, bukan untuk sok eksis. Hanya sekedar menikmati ukhuwah ini.
Aku iri pada mereka yang berada di laboratorium yang lengkap, yang dengan sesuka hati mengeksploitasi pengetahuannya.
Aku iri pada teman-teman yang seharusnya menjadi teman sekelasku sekarang, yang sebenarnya telah kubayangkan akan bersama tertawa riang.
Ya, inilah aku mahasiswa pengiri, biar begaimanapun inilah tempatku saat ini, sesuatu yang terbaik untukku.
Mahasiswa pengiri
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Dari FB hingga BBM, dari Peter Pan hingga Edcoustic
Dari Facebook hingga Blackberry Messenger, dari Peter Pan hingga Edcoustic. Biarlah ia menjadi bait-bait puisi kenangan nan indah. Berawal dari sana terajut asa yang lama, terbangun mimpi yang nyaris sirna. Sungguh mimpi itu nyaris-nyaris saja tampak nyata, membentang seluas samudra, berkilau seindah nirwana.
Memang ini salah adanya. kuhanya berharap adanya cela, untuk secercah pelita bagi hidupku yang nelangsa.
Tak mengapa jika akhirnya hanya menjadi mimpi saja, toh seisi alam memakluminya, kuingin ini akan kulupa, tapi apalah daya. kan kusimpan dalam etalase kenangan ku saja, untuk kupandang tiap akhir senja dan ketika cahaya rembulan menyapa.
memang ku seperti punuk merindukan bulan.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Memang ini salah adanya. kuhanya berharap adanya cela, untuk secercah pelita bagi hidupku yang nelangsa.
Tak mengapa jika akhirnya hanya menjadi mimpi saja, toh seisi alam memakluminya, kuingin ini akan kulupa, tapi apalah daya. kan kusimpan dalam etalase kenangan ku saja, untuk kupandang tiap akhir senja dan ketika cahaya rembulan menyapa.
memang ku seperti punuk merindukan bulan.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
Subscribe to:
Posts (Atom)