Siang itu seperti biasanya Agus dan Darwis pergi ke mushalla sekolah untuk menunaikan sholat dzuhur berjama'ah dilanjutkan dengan halaqoh dengan Kak Fandi. Setiap harinya Agus dan Darwis selalu datang paling awal ke mushalla untuk mengumandangkan adzan. Biasanya mereka selalu bertukar peran sebagai muadzin dan imam. Siang ini ada sesuatu yang tampak berbeda, kedatangan mereka ternyata sudah didahului oleh seseorang dengan penampilan kusut, baju seragam tidak rapi dan jaket bergambar tengkorak. Bukan kekacauan yang dilakukan orang itu, saat Agus dan Darwis datang orang itu justru tampak sedang melakukan sholat sunnah.
Agus dan Darwis tampak terheran-heran dengan kekontrasan penampilan dengan apa yang dilakukan orang itu, namun mereka berusaha tetap bersikap biasa. Setelah berwudhu, Agus segera menggapai microphone untuk mengumandangkan adzan dan Darwis bersiap untuk menjadi imam.
Tak lama setelah menunaikan shalat dzuhur, datanglah kak Fandi. Suara motornya yang terdengar khas bagi anak-anak Rohis ini membuat mereka sudah mampu menebak kedatangan kak Fandi hanya dari suara motornya saja.
Selain Agus dan Darwis beberapa anak Rohis lainnya juga sudah siap mendengarkan materi halaqoh dari kak Fandi. Anggota-anggota Rohis SMK Pelita Bangsa ini terdiri dari berbagai latar belakang, ada Daniel si tampan dari keluarga terpandang, Fikri dengan badan besar dan hitam yang merupakan seorang pekerja keras membantu ayahnya menjadi kuli bangunan, ada Hafiz si anak supel yang hobi becanda, dan banyak lagi anggota-anggota lainnya. Rohis angkatan kami memang memiliki banyak anggota, ini berkat usaha kak Fathir yang gencar melakukan promosi-promosi kepada siswa-siswa baru
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
Yang kumau hanya dirimu, tapi tak begini keadaannya
HI FRIEND!!
Sudah lama sekali rasanya tidak
bermain sepakbola di lapangan rumput. Ternyata sudah 5 tahun saya berpisah
dengan rumput2 kecil nan indah itu. Kini saat diri telah memasuki semester 5
kuliah, kesempatan untuk bertemu dengan mereka hadir kembali. Kabinet baru BEM
Universitas berinisiatif untuk membangun kembali tim sepakbola yang telah lama
mati.
Saat itu saya yang masih menjabat
selaku Mentri Agama Universitas, pergi bersama Fikri yang menjabat Mentri
olahraga untuk mencari lapangan untuk kami bermain sepakbola. Banyak
lapangan-lapangan kosong yang kami temukan. Namun tidak ada yang benar-benar
representatif. bahkan selain tidak begitu representatif, ternyata uang sewa
lapangan itu cukup mahal. Yah beginilah kenyataan tinggal di kota besar yang
nyaris rata dengan gedung-gedung.
Dua minggu telah berlalu,
ternyata tanpa didampingi oleh saya, Fikri telah berhasil menemukan lapangan
yang cukup murah uang sewanya. Bukan kepalang kegembiraan saya mendengar kabar
tersebut. Namun saya lupa menanyakan satu hal, "bagaimana kondisi lapangan
itu?" Dan ternyata pertanyaan yang terlupa itu menjadi hal yang sangat
vital. Bagaimana tidak, saat saya sampai ke lapangan tersebut untuk ikut
bermain, hal yang terpampang di hadapan saya sungguh sangat sulit dipercaya.
Lapangan ini lebih cocok dijadikan lokasi olahraga surfing daripada olahraga
sepakbola, GELOMBANGNYA SANGAT BANYAK.
Subscribe to:
Posts (Atom)