Pages

20 November 2014

20 November 2014,
Sekitar 2 bulan menuju sidang.
Bukan! Bukan sidang skripsi,
Ini sidang Kape, seperti yang sering sayang biacarakan itu.
Skripsi masih terlalu jauh untuk tampak dari mata saya,
Ketika yang lain sudah berfikir "akan membuat skripsi tentang apa?" saya masih berfikir "akan membuat skripsi pakai apa?"
Ada yang berfikir mahasiswa komputer sama dengan peternakan atau FISIP. Ya, memang sama, sama-sama mahasiswa, sama-sama mengerjakan skripsi menggunakan komputer, tetapi logika paling sederhanapun akan mengakui bahwa mahasiswa komputer mutlak harus memiliki waktu berinteraksi dengan komputer lebih banyak.
Saat ini saya ada di semester 9, sebagian orang dari kampus lain mengatakan ini adalah hal biasa, tetapi tetapi tidak dengan lingkungan dan kampus kami, ini hal yang tabu!
Hal terberat di sini bukanlah masalah waktunya, tetapi masalah kondisinya, serba salah, atau lebih tepatnya serba disalahkan.
Saya bersedia menanggung cap sebagai pemalas, lalai atau bodoh sekalipun, asalkan dalam cacian itu ada solusi untuk saya.
Ini catatan saya hari ini, tidak bermaksud mellow, saya hanya ingin berontak, tetapi entah kepada siapa. Saya mungkin sudah terlalu sering mengkambing hitamkan diri sendiri, karena tidak etis mengkambing hitamkan orang lain, apatah lagi orang yang umumnya harus dipuji.
Saya ingin berontak! Berikan aku gelas-gelas untuk kupecahkan, berikan aku piring-piring untuk kulempar sejauh kemarahanku!!
Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

Mahasiswa pengiri

Ini seharusnya menjadi akhir perjalanan studiku, terlepas dari terpasangnya toga ataupun tidak, segalanya memang tak lagi sama, semester baru dengan semester tua, jauh berbeda. Sampai di titik ini banyak sekali yang ingin ku sesali, bukan untuk kufur nikmat, hanya sekedar untuk mendaki tangga nelangsa hinga sampai ke titik bahagia meski entah dimana titiknya, setidaknya di situ aku dapat merasa lega.

Aku iri pada mereka yang berasa di antara awan, di puncak gunung, di padang sang bunga 'abadi' edelweis.

Aku iri pada mereka yang duduk bersama-sama dengan ulasan-ulasan kritis nan elegan, nan penuh ketulusan membangun perdaban.

Aku iri pada pertemuan dengan rekan dari seluruh penjuru negeri. Bukan untuk jalan-jalan gratis, bukan untuk sok eksis. Hanya sekedar menikmati ukhuwah ini.

Aku iri pada mereka yang berada di laboratorium yang lengkap, yang dengan sesuka hati mengeksploitasi pengetahuannya.

Aku iri pada teman-teman yang seharusnya menjadi teman sekelasku sekarang, yang sebenarnya telah kubayangkan akan bersama tertawa riang.

Ya, inilah aku mahasiswa pengiri, biar begaimanapun inilah tempatku saat ini, sesuatu yang terbaik untukku.

Mahasiswa pengiri
Powered by Telkomsel BlackBerry®